November sore selalu saja hujan, bahkan pada Minggu kelabu ini. Langit seolah ikut mentertawakan nasib-nasib  yang tak beruntung.
                Sementara itu, di luar gereja, Annisa merapatkan lagi rompi tipis yang di gunakannya sebagai luaran gaun panjang berwarna peach yang bertali spageti. Tapi rompi itu terlalu tipis, sangat tak membantu mengingat hujan sangat lebat di sertai angin yang bersemangat mengalirkan dingin pada apa saja yang di lewatinya
                “Termasuk pada hati-hati yang sedang patah hati.” Batin Annisa.
                Mengingat dirinya baru saja menghadiri pernikahan mantan kekasihnya, Annisa cukup rasional memikirkan bagaimana menyedihkannya hari Minggu terakhir di bulan penuh hujan ini.
                Dingin
                Tapi Annisa tak dapat melakukan apa-apa lagi selain berdiri di dekat pintu masuk gereja seraya menunggu hujan untuk mereda agar dia dapat berlari kecil menuju gerbang gereja, menuju pool taksi di depan gereja.
                Yang terjadi, hujan bukannya mereda malah langit sepertinya sedang memanfaatkan kesempatan-kesempatan terakhirnya untuk membuat November ini semakin basah.
                Lamunan Annisa tentang patah hatinya semakin mendalam, tentang bagaimana hatinya masih berdarah. Annisa tahu, tak baik mengingat lagi rasa patah hati. Tapi, rasa sakit itu terkadang membuatmu sadar akan kenyataan yang ada bukan?
                “Melamun, Annisa.” Sebuah suara, kemudian kehangatan di tangan Annisa. Telapak tangannya kini berada dalam saku hoodie. Annisa mendongak menatap si pemilik suara.
                “gue gak melamun, nunggu hujan reda tuh bikin gabut banget ternyata.” Ujar Annisa
                “Mau pulang? Cepat banget. Mau nangis seharian di kamar?” Tanya lelaki itu, Annisa merengut kesal. Ia lupa, kalau lelaki ini terlalu hapal dengan dirinya.
                “Mau ngapain kek, urusan gue sih.” Jawab Annisa tegas, namun getar kesedihan tersirat jelas dalam suaranya.
                “Kenapa lo harus menangis sendirian, sementara disini ada gue yang bisa menemani lo?” Tanya Leo lagi, Annisa tersenyum manis.
                “Cuma nemanin gue nangis?” Annisa balik bertanya.
                “Menemani lo menangis, memeluk lo dan menghapus air mata lo Annisa.” Jawab Leo. Kali ini senyum Annisa melebar, jejak kesedihan di hatinya menghilang perlahan, seolah tertiup angin November ini.
                “Tapi, hujan masih deras banget,” Ujar Annisa, Leo ganti tersenyum, sementara itu genggaman hangatnya pada jemari lentik Annisa yang kini tersembunyi aman di dalam saku hoodienya semakin mengerat saja, menggantikan dinginnya bulan November ini.
                November bukan selalu berarti dingin bukan? Bahkan menemukan cintamu di bulan November ini terkadang segampang sang awan menurunkan rerintik air.
                Jika terlalu sulit memegang satu lilin untuk menghangatkanmu di bulan November ini, seharusnya kau mencari orang yang sama-sama kedinginan untuk membantumu memegang lilin pada bulan November ini” Batin Annisa sementara stilletto hitamnya bergerak memijak genangan air menembus dinginnya November ini, sementara kehangatan lain menjalar di hatinya, juga di tangannya yang kini di genggam mesra oleh Leo.


Komentar

Postingan Populer